Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

HANYA

Hanya saling sapa Tidak ada sebait kata Membuka percakapanpun tidak .. Hanya memanggil nama Tidak menyentuh perasaan .. Hanya mengagumi dan mencintai Dalam diam dan sunyi

ENTAH

Kita menari diatas sembilu Dalam rahasia cinta yang pilu Entah mempertahankan atau menunda Kita hanya perjuangkan yang ada (RPP - 16 April 2018)

Pribumi

Kita telah asing di negeri sendiri Bukankah kita ini adalah pribumi Pribumi yang selalu saja mendapat cacian dan maki Penguasa oh penguasa.. Lupakah dirimu pada jasa-jasa para pribumi Dulu, dikala kau sedang kesulitan Kesulitan mempertahankan eksistensi Kau meminta bantuan kepada pribumi Penguasa oh penguasa Pribumi tidak meminta apapun darimu duhai sang penguasa Penguasa oh penguasa Sudah puaskah dirimu dengan kekuasaanmu? Penguasa oh penguasa Sudah berjalankah segala program kerjamu? Kau mencetak, mendidik, serta mengacuhkan Beberapa penguasa bicara kepadaku Penguasa oh penguasa Mulai detik ini, kami bukan lagi pribumi Yang bisa sewaktu-waktu kau caci dan maki Penguasa oh penguasa Jikalau ingin menguasai negeri ini Langkahi mayat kami Kami rela mati demi mempertahankan gelar " pribumi "

Sedikit curhat, boleh?

Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan dalam hidupku. Karena peristiwa itu yang tiba-tiba menghampiriku. Aku tak tahu, harus menjalani atau malah menolaknya. Tapi ini sudah terlanjur terjadi pada hidupku. Mungkin bagimu aku adalah suatu hal yang biasa-biasa saja. Tidak memiliki arti dan bahkan tidak memiliki peran tertentu dalam hidupmu. Ini adalah sedikit anggapan suudzonku padamu karena aku melihat dari bagaimana caramu memandangku, caramu berbicara kepadaku seolah-olah tidak menghargai aku. Ya terimakasih atas perlakuanmu kepadaku selama ini. Aku berharap kamu bisa berubah. Aku berharap kita bisa akrab. Dan lebih dari akrab.. Lebih baik aku yang menjauh, daripada mendekati orang yang tak bisa menghargai oranglain. Terimakasih..

Kau Lupa

Apa yang terlintas dalam benakku saat ini mungkin pernah engkau rasakan Aku mengetahui itu Engkau pernah bicara kepadaku Kau tak mengenalku Kau tak mengetahui seluk beluk ku Kau belum akrab denganku Bagai ditusuk pisau hati ini Risau sih tidak Sakit jua tidak Pedih apalagi Yang aku tahu, kita sudah saling mengenal Yang aku tahu, kita sudah saling akrab Kita sempat saling sapa meski kini kau lupa

Nasehat ibu untuk sang anak

Nak.. Kemarilah nak.. Dengarkan ibumu, nak.. Ibu punya pesan penting untukmu, nak.. Kamu harus dengarkan pesan ibu ini, nak.. Ibu tidak akan berbicara panjang lebar, nak Satu pesan singkat ibu berikan untukmu, nak "Janganlah jadi orang yang "ikut-ikutan" nak. Kokohkan imanmu nak. Jangan sampai kamu tegoyah sana-sini". #pesanibudipagihari

Nasehat ayah untuk sang anak

Nak dengarlah.. Aku ini ayahmu nak Kamu tak perlu cemburu jika namamu tidak ada dalam suatu data yang disitu isinya orang-orang pilihan Nak dengarlah.. Aku ini ayahnu nak Kamu tidak perlu risau ketika kamu tidak dicantumkan dalam suatu jabatan dalam kelembagaan Nak dengarlah Aku ini ayahmu nak Kamu tidak perlu repot untuk mencari "siapa" "siapa" dan siapa. Ketika kamu memang benar-benar dibutuhkan, pasti kamu akan dicari oleh banyak orang. Nak dengarlah Aku ini ayahmu nak Kamu yang akan menjadi penerus bangsa nak. Kamulah orang yang paling ayah harapkan bisa meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita nak Nak dengarlah Dengar perkataan ayah "Berharaplah pada tuhan nak. Kita punya tuhan nak. Tidak perlu berharap jadi "A" di tempat A. Jadi B ditempat yang lainnya. Itu tidak perlu nak. Kamu cukup berdoa dan tetap istiqomah dengan tujuan dari doamu itu insyaAllah kamu bisa meraih kesuksesan. Nak dengarlah Bantu orang-ora...

Rindu

Kala senja merindu Diujung rindu Ku meratap sendu Tak kalah hati ini menunggu Sosok yang kurindu rindu Sedih kecewa Kala hancur hati ini Ketika kau dan aku Bukan menjadi kita Kita?? Apalah sebuah arti kita Kita antara aku dan kamu Kini telah usai Usai cerita kita Usai kenangan indah kita Hanyalah yang tersisa Sebuah hayalan semu Kini... Kini ku menangis dalam sendu Sendu teriris iris Kala rindu ini Tak kunjung tersampaikan Apalah daya diriku ini Hanyalah sebuah angin Perpisahan memang menyakitkan Menyakitkan dalam hati dan pikiran Bersabarlah rindu... Semoga rindu ini Dapat tersampaikan Entah kepada siapa Tunggulah saja

Untuk seseorang yang mengalihkan pandangan

Aku mengira saat aku kembali pulang, kamu masih tetap disini Ternyata tidak, kamu bergegas pergi meninggalkanku Yah, bodohnya aku Melewatkanmu waktu itu

Seketika

Selamat pagi cantik Semoga kamu selalu sehat disana, cantik Selamat pagi cantik Semoga kamu selalu bahagia disana, cantik Selamat pagi cantik Pagi ini kamu tampak lelah sekali Selamat pagi cantik Aku senang, pagi ini bisa mendengarkan suara merdumu Kamarku sunyi, dan merdu seketika

Pulanglah pak

Pulanglah, pak Kami sekeluarga menunggumu, Pak Kawan-kawan bapak  juga sudah menunggu Pulanglah, pak Apakah bapak tidak tahu Indonesia pecah, Pak? Sekarang si hijau gak mau kesini, pak Si biru juga lupa sama kampung kita, pak Si merah entah pergi kemana, pak Pulanglah, Pak Apa bapak sudah tiada mengingatku lagi Aku ini anakmu, pak Pulanglah, pak Ibu dan adik sudah sangat merindukanmu, pak Apa bapak lupa? Dulu bapak pernah membelikanku mobil-mobilan dari kayu Pulanglah, pak Lihat kampung kita ini, pak Yang dulu layaknya semut merah bergotong royong saat mencari makan Kini seperti kupu-kupu Yang perginya sendirian kemanapun ia mau

Bulan dan bintang vs Kamu

Matahari mulai terbenam di ufuk barat Menandakan hari sudah malam Tiada lagi sinar mentari yang menyengat Yang ada hanya bulan dan bintang . . Keindahan bulan dan bintang sungguhlah indah Sinarnya menerangi malam yang gelap Menerangi seluruh isi jagat raya ini . . Tapi, malam ini sungguh berbeda Bulan dan bintang tidak muncul-muncul Aku sudah menunggunya sejak pukul 7 tadi Dan ternyata aku baru mengingatnya . . Malam ini ada kamu disampingku Indahnya paras diwajahmu, anggunnya sifat dihatimu Mengalahkan sinar dari bulan dan bintang di malam ini

Puisi ing Bahasa Jowo

Termimal Jombo r by : Arek Lampung Wingi awan kiro-kiro jam siji aku teko nang jombor karo faroji kenalan karo bapak ojek jenenge suraji pas ditakoni omahe, jarene neng pinggir kali Awan iku pancen panas temenan mluka mlaku ndelok bus podo simpangan jebul wetengku luweh tenan gek ndang aku golek panganan tekane aku nang warung kepethuk sampean sing nganggo krudung rupo ayu, irunge mancung aduhai, atiku kelayung-layung